Contoh Kartu Penduduk Buatan Belanda (C) KASKUS
Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari upaya agresi militer Belanda kedua tahun 1947, berbagai usaha dilakukan penjajah untuk mempersempit ruang gerak pasukan pejuang di Malang Raya. Salah satunya dengan menerbitkan kartu penduduk buatan Belanda untuk warga pribumi.
Seperti yang dikisahkan oleh salah seorang pimpinan kompi pejuang kala itu, Jenderal (Purn) Soemitro dalam buku Perjuangan Total Brigade IV, pada saat itu pasukan Mayor Hamid Rusdi mengadakan penyusupan ke daerah pendudukan Belanda di daerah Malang Timur melalui berbagai pertempuran. Seperti diketahui, daerah pendudukan Belanda pada masa agresi militer I semakin luas akibat ditandatanganinya perjanjian Renville. Hal itu diperparah dengan adanya pemberontakan yang dilakukan oleh FDR/PKI. Keadaan ini dimanfaatkan penjajah untuk menghancurkan Republik Indonesia.
Pada saat Belanda menduduki Malang, kartu penduduk terbitan pemerintah Indonesia yang dimiliki oleh warga masyarakat diganti dengan kartu penduduk buatan Belanda. Hal itu sengaja dilakukan oleh kubu penjajah untuk menghambat gerak pasukan gerilya Hamid Rusdi yang akan menyusup ke daerah pendudukan. Siapa saja yang tidak memegang kartu penduduk terbaru itu akan dicurigai sebagai penyusup oleh Belanda. Kesulitan tersebut ditambah dengan adanya sikap kurang simpatik beberapa oknum penduduk yang tinggal di daerah pendudukan terhadap perjuangan TNI.
Akhirnya, Mayor Hamid Rusdi mengambil beberapa tindakan atas usul dari A.J. Tjokrohadi. Yang pertama dilakukannya adalah memberikan instruksi kepada seluruh kepala desa untuk menyerahkan semua kartu penduduk buatan Belanda yang dipegang oleh warganya masing-masing. Langkah tersebut disertai sedikit gertakan, jika kepala desa tidak mau menyerahkan semua kartu penduduk tersebut maka ia akan menjadi sasaran TNI. Sementara itu, warga yang tidak sempat menyerahkan kartu penduduk buatan Belanda itu diminta untuk memusnahkannya dengan cara dibakar.
Instruksi Mayor Hamid Rusdi ini membuahkan hasil. Setidaknya ada lebih dari 10 ribu lembar kartu penduduk buatan Belanda yang mampu dikumpulkan dalam waktu semalam saja. Kartu penduduk ini berasal dari warga daerah Gadang, Mergosono, Janti, Kedungkandang, Kebalen, Sumbersuko, Tlogowaru, Wonokoyo, dan Kendalpayak. Langkah selanjutnya, Kompi Kusno atas perintah Mayor Hamid Rusdi akhirnya membakar habis kartu penduduk tersebut. Mereka pun berpesan, jika Belanda bertanya soal kartu penduduk buatannya tersebut, warga diharuskan menjawab bahwa kartu penduduk tersebut sudah diambil oleh TNI.
Setelah pemusnahan kartu penduduk buatan Belanda itu, pasukan Mayor Hamid Rusdi dapat lebih leluasa dalam menyusup ke daerah pendudukan Belanda. Bisa ditebak, Belanda pun kesulitan membedakan mana warga biasa dan mana pejuang Malang yang tengah menyusup. Pasukan Mayor Hamid Rusdi pun dengan mudah bergerak menyusun strategi rencana infiltrasi atau penyerangan lewat Gerakan Rakyat Kota (GRK). Pasukan Batalyon I pimpinan Mayor Hamid Rusdi pun akhirnya bisa menguasai beberapa titik di daerah pendudukan Belanda di Kota Malang.
