Januari 15, 2026
?>
Sebuah suasana perang di Dampit yang dikomandoi MG (Markas Gerilya) III/SWK Malang (C) REENACTOR

Sebuah suasana perang di Dampit yang dikomandoi MG (Markas Gerilya) III/SWK Malang (C) REENACTOR

Ketika Belanda mampu menguasai Dampit, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, muncul inisiatif dari MG (Markas Gerilya) III/SWK Malang untuk merebutnya kembali. Seperti apa kisah perjuangan mereka?

Ketika Belanda mampu menguasai Dampit, yang letaknya di sebelah selatan Kota Malang, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan, muncul inisiatif dari pasukan Republik Indonesia untuk merebutnya kembali. Inisiatif itu datang dari MG (Markas Gerilya) III/SWK Malang.

Rencana penyerangan terhadap Dampit sudah dipikirkan matang-matang di Markas Gerilya, hingga tiba waktunya pada tanggal 27 Juli 1949. Pasukan RI telah siaga penuh untuk menyukseskan rencana ini sejak dini hari. Serangan umum terhadap Dampit itu awalnya direncanakan pada pukul 06.00 WIB. Namun, kemudian terjadi pemajuan jam serangan. Sejak pukul 05.45 WIB, sudah terdengar tembakan pertama yang dilakukan dengan tekidanto (mortar) sebagai komando atau tanda untuk memulai serangan tersebut. Sayangnya, tembakan mortar tersebut tidak berbunyi, sehingga pasukan lainnya tidak mengetahuinya.

Regu penembak mortar yang gagal memberi aba-aba penyerangan pun memilih mundur ke tempat yang telah ditentukan. Hal ini mereka lakukan sebagai isyarat kepada seksi-seksi lainnya. Mengetahui hal itu, pasukan yang membawa senjata ringan maju hingga hanya berjarak 200 meter dari markas musuh.

Perlawanan sengit dilakukan pihak Belanda yang berupaya mempertahankan markasnya. Sementara pejuang gerilyawan RI tak mau kalah, hingga pertempuran selama seharian tak terelakkan. Pada pukul 18.30 WIB, berbunyi lah terompet tanda perang berhenti. Pasukan gerilya RI pun mundur ke tempat yang dirasa aman dari serangan musuh. Seksi-seksi pasukan berkumpul di Desa Gadungsari, Kecamatan Tirtoyudo. Mereka lalu bergerak menuju Kecamatan Ampelgading untuk lebih meyakinkan bahwa posisi mereka aman dari kemungkinan kejaran Belanda.

Sebenarnya, pasukan gerilya RI yang dikomandoi SWK Malang sempat menyadari adanya bala bantuan pasukan Belanda dari wilayah Sedayu, Kecamatan Turen. Langkah strategis lalu dilakukan dengan menghadang mereka dengan berbagai rintangan dan jebakan yang dibuat pasukan khusus bernama Macan Putih Talok.

Pada pertempuran ini, bisa dibilang pihak SWK Malang sebagai pemenangnya. Sebab, tidak ada satu pun korban dari pihak pasukan gerilya RI. Sementara itu, di pihak pasukan Belanda dilaporkan jatuh korban sebanyak 24 tentara yang tewas dan luka-luka usai serangan umum tersebut.

?>