Januari 15, 2026
?>
Penampakan skuat PS PORKA Milik Pabrik Gula Kebonagung sebelum berlaga di Pesta Giling (C) SUROSO EFFENDI

Penampakan skuat PS PORKA Milik Pabrik Gula Kebonagung sebelum berlaga di Pesta Giling (C) SUROSO EFFENDI

Jauh sebelum ada Arema ataupun Persema Malang, Pabrik Gula Kebonagung yang berdiri sejak tahun 1905 sudah memiliki klub sepak bola jempolan yang bisa dibanggakan. Klub sepak bola itu bernama PS PORKA (Persatuan Olahraga Kebonagung) yang cukup melegenda di masyarakat Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Pakisaji dan sekitarnya.

Jauh sebelum ada Arema ataupun Persema Malang, Pabrik Gula Kebonagung yang berdiri sejak tahun 1905 sudah memiliki klub sepak bola jempolan yang bisa dibanggakan. Klub sepak bola itu bernama PS PORKA (Persatuan Olahraga Kebonagung) yang cukup melegenda di masyarakat Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Pakisaji dan sekitarnya. Saking tenarnya, sampai-sampai dijadikan sebagai brand image PG Kebonagung di bidang olah raga, khusunya sepak bola.

Dilansir dari tulisan Abdul Malik di laman Kompasiana berjudul “Persatuan Sepak Bola PORKA Pabrik Gula Kebonagung”, PS PORKA sudah ada sejak tahun 1960-an. Hal itu dituturkan oleh saksi sejarah bernama Suroso Effendi, yang dulunya merupakan pemain PS PORKA. Klub sepak bola milik PG Kebonagung itu tak hanya diperkuat oleh karyawan pabrik, melainkan juga mengambil pemain dari warga sekitar Kabonagung.

Pria yang akrab disapa Pak Os itu sejak kecil tinggal di Perumahan Magersari dekat mushala. Sejak umur empat tahun ia sudah gemar menonton PS Porka bertanding. Barulah pada saat berusia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1973, Pak Os masuk PS PORKA. Saat itu statusnya bahkan belum menjadi pegawai PG Kebonagung, karena ia baru masuk menjadi pegawai pabrik pada tahun 1986.

Pak Os menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah kemajuan PS PORKA yang cukup pesat, hingga dapat disejajarkan dengan persatuan sepak bola yang ada di Malang lainnya, seperti PS Gajayana, PSIM (Indonesia Muda), PS Faroka, dan lain-lain. Kala itu pembina PS PORKA adalah seorang Belanda bernama Meyer, yang kebetulan bekerja di PG Kebonagung sebagai Kepala Garasi. Tercatat, saat itu PS PORKA melahirkan beberapa bintang sepak bola seperti kiper Markim (bekerja sebagai sopir bis PG Kebonagung).

Terkuaknya sejarah PS PORKA kebanggaan PG Kebonagung dan warga setempat ini tak lepas dari upaya Abdul Malik yang menggandeng rekannya, Asa Wahyu Setyawan dalam Eklesia Prodaksen dalam menelusuri jejak sejarah di Kebonagung yang merupakan tempat tinggal mereka. Berawal dari kengototan mereka, perkumpulan yang konsen terhadap sejarah, kebudayaan, sosial yang ada dan hidup di Kebonagung itu akhirnya berhasil menemukan dokumentasi sebuah foto hitam-putih bertahun 1973 milik Pas Os, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua RW 1 di Kebonagung, Kecamatan Pakisaji.

Tak hanya sejarah PS PORKA, mereka pun mengklaim bahwa Lapangan Magersari Utara, Kebonagung banyak meninggalkan jejak sejarah pesepakbolaan di Kebonagung. Di lapangan tersebut, dulu PG Kebonagung kerap mengadakan Pesta Giling dengan menggelar turnamen maupun pertandingan persahabatan sepak bola se-Malang, seperti yang tergambar dalam foto hitam-putih milik Pak Os.

Dalam Pesta Giling tersebut, PS PORKA yang diperkuat sebagian karyawan PG Kebonagung, dan sebagian lagi anak-anak muda Kebonagung sering menjalani laga persahabatan melawan klub-klub sepak bola ternama di Malang, seperti PS Satria dari Blimbing dengan pelatih Nino Sutrisno, PS IM (Indonesia Muda) Malang yang dilatih Andut, dan PS Dinoyo. Selama sepekan, warga Kebonagung dan sekitarnya disuguhi oleh pertandingan sepak bola.

Beberapa hari yang bertanding adalah anak-anak muda dari masing-masing RW di Kebonagung. Pertandingan biasanya dimulai pukul 15.30 hingga 17.30 WIB. Sementara PS PORKA yang dilatih Pak Prapto dan Pak Mukayat bertanding pada hari Jumat dan Sabtu. Biasanya, pertandingan sepak bola pada gelaran Pesta Giling itu akan ditutup dengan pentas ludruk. Waktu itu, menurut penuturan Pak Os, honor main sepakbola cukup makan-makan. Setelah pertandingan, biasanya pemain senang-senang nonton ludruk bersama.

“Kalau main di Pesta Giling senangnya bukan main. Penonton meluber hingga seribu. Penonton dari dusun Temu, Kacuk, Kepuh berbondong-bondong ke Lapangan Magersari nonton sepak bola pembukaan pesta giling. Kumpul-kumpulnya di rumah Pak Mukayat, Pembina PS PORKA yang juga pegawai PG Kebonagung bagian kantor. Salah satu anak Pak Mukayat bernama Dedi M Darda (Didit) pernah menjadi pemain Arseto Solo,” ujar Pak Os.

Pesta Giling dengan menggelar pertandingan sepak bola semacam itu sudah lama tak digelar oleh PG Kebonagung. Terakhir, acara tersebut dihelat pada tahun 2010 silam. Setelah itu tak ada lagi gelaran semacam itu, seiring turut vakumnya PS PORKA yang tak terdengar lagi aktivitasnya. Kini, cerita kegagahan PS PORKA pun tinggal cerita mulut ke mulut dari kaum tua ke generasi muda di Kebonsari.

Keterangan foto, berdiri dari kiri ke kanan:
Sukoco (asli Kacuk, bek kanan, sudah almarhum); Ipin (penyerang, asli Perumahan Magersari, pegawai Faroka, sekarang di Perumahan Janti); Suroso (gelandang kanan, kini Ketua RW 01 Desa Kebonagung); Yohanes (bek, Perumahan Magersari, sudah almarhum); Koeslan (kanan luar, pegawai pabrik gula Kebonagung, warga Gang 1 Kebonagung); Minggus de Silo (penyerang kanan, pegawai PG Kebonagung, sudah almarhum); Pras (gelandang kiri, warga Raya Kebonagung); Edi Soekarno (kakaknya Pak Os, bek kanan, pegawai PG Kebonagung, sudah almarhum).

Yang jongkok, dari kiri ke kanan:
Gaguk (kanan luar, warga Gang 3 Desa Kebonagung), Suyadi (kiper, warga gang 2 Desa Kebonagung); Prayit (bek kiri, pegawai PG Kebonagung).

Latar belakang foto:
Dua gedung, yang sebelah kiri kini menjadi Koperasi PG Kebonagung, sedangkan yang sebelah kanan adalah Gedung Serbaguna (SBG). Keduanya milik PG Kebonagung. Sebelah utara lapangan masih berupa tanaman tebu (kini Perumahan PLN).

?>