Belajar Kegigihan dari Sosok Kapten Infanteri Imam Buchori (C) DETIK.COM
Kapten Infanteri Imam Buchori merupakan perwira pertama TNI Angkatan Darat lulusan Akademi Militer tahun 2006. Meski besar dalam keluarga yang tergolong tidak mampu, arek Malang satu ini mampu mendapatkan prestasi terbaik lewat kegigihannya.
Saat ini pria kelahiran 18 Maret 1985 itu berdinas di Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Sebelum meniti karir kemiliteran ini, selepas menamatkan bangku sekolah di SMP Negeri 5 Malang pada tahun 2000, Imam Buchori tertarik untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara Magelang Yogyakarta (Tarnus) menjadi Angkatan TN-11.
“Saya tertarik informasi pendidikan SMA Tarnus dari salah satu alumni SMP 5, yang promosi di sekolah saya, apalagi sekolah itu gratis, lulus SMP saya mencoba daftar. Ternyata lolos,” ujarnya mengenang, seperti dikutip dari detik.com.
Selama menimba ilmu di Tarnus, Imam mengaku tak memiliki prestasi yang luar biasa. Meski kemampuannya masih dalam taraf rata-rata taruna lainnya, Imam berhasil mendapatkan pangkat Sermatar. Hasil kegigihannya mulai tampak berbuah prestasi ketika memutuskan masuk ke AKMIL (Akademi Militer) TNI setelah lulus dari Tarnus pada tahun 2003.
Dari tingkat satu naik ke tingkat dua, Imam mendapatkan penghargaan Trisakti Wiratama perak, dari tingkat dua ke tingkat tiga Imam mendapatkan Trisakti Wirata Perunggu, dan mengakhiri pendidikan Trisakti Wiratama emas, sekaligus menjadi lulusan terbaik serta penghargaan atas prestasi pada kepribadian, akademik, dan jasmani.
Imam Buchori dilantik oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama 928 taruna tiga angkatan dan kepolisian RI lainnya. Acara pelantikan yang disebut Prasetya Perwira (Praspa) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pelantikan anggota kepolisian negara RI (Polri) itu dilakukan di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta (15/12/2006).
Imam pun berhak mendapatkan anugerah Bintang Adi Makayasa. Penghargaan yang sama pernah didapat SBY kala menjadi lulusan terbaik Akabri pada tahun 1973 silam.
Putra pasangan Abdul Salam dan Siti Khotijah ini juga telah dinobatkan sebagai peraih Sangkur Perak dari Mabes TNI AD ketika diwisuda menjadi lulusan terbaik Pendidikan Diklapa I kecabangan TNI Angkatan Darat (TA.2014) (17/05/2014).
Prestasi yang diraihnya itu tak lepas dari doa kedua orang tuanya. Abdul Salam yang sehari berprofesi sebagai tukang becak tentu sangat bangga dengan pencapaian Imam. Sementara sang ibu, Siti Khotijah kesehariannya sering menerima panggilan buruh cuci baju, setrika, atau asisten rumah tangga harian.
Namun, hal itu tak membuat Imam minder, justru lebih mantab membulatkan tekad meraih posisi terbaik demi membanggakan kedua orang tuanya. Menariknya, sajak di bangku SMP, sang bapak mengaku tak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk biaya sekolah anaknya tersebut. Upaya Imam mencapai prestasi terbaik lah yang mendatangkan berkah beasiswa baginya.
