Januari 15, 2026
?>
Irendra Radjawali, Arek Malang Perakit Drone Murah - IST

Irendra Radjawali, Arek Malang Perakit Drone Murah - IST

Drone atau yang bisa juga disebut sebagai pesawat pengintai tak berawak yang dilengkapi dengan kamera dan fitur-fitur canggih lainnya dan dikendalikan dari jarak jauh itu, saat ini harga yang termurah di pasaran masih berkisar di atas 25 jutaan rupiah. Namun di tangan Arek Malang (Arema) bernama Irendra Radjawali, biaya produksinya bisa ditekan sedemikian rupa hingga lebih murah, namun tetap memiliki kualitas.

“Dengan merakit drone sendiri, kami bisa mereduksi biaya dan secara otomatis ilmunya juga didapat dan bisa dibagikan kepada masyarakat demi kepentingan sosial kemasyarakatan,” tutur Radja, panggilan akrabnya, dilansir dari Surabayaonline.co.

Seiring kepopulerannya dewasa ini, harga drone di pasaran memang kian melonjak. Harga gila-gilaan itu coba diakali Radja dengan daya kreativitasnya. Radja berhasil merakit pesawat tak berawak itu dengan biaya yang jauh lebih murah. Drone rakitannya hanya dijual dengan harga 15 juta sampai 20 juta rupiah saja.

“Saya ingin Indonesia tidak ketinggalan dalam perkembangan teknologi dan bisa memproduksi drone sendiri,” ujarnya.

Usai menamatkan pendidikan tingginya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas Teknik Sipil, pada 2002, Radja kemudian melanjutkan pendidikan S-2 planologi di perguruan tinggi yang sama pada tahun 2004. Setahun kemudian, laki-laki kelahiran Malang, 8 September 1974, itu mendapat beasiswa kuliah ke Perancis. Tamat dari negeri mode itu pada 2008, Radja langsung menerima beasiswa lagi ke Jerman untuk belajar S-3 mengenai ekologi politik di tahun yang sama.

Selesai menamatkan S-3, Radja mengerjakan beberapa proyek pemetaan kawasan di Kalimantan. Pada saat itulah, si genius ini melihat kebutuhan untuk bisa memanfaatkan drone, sebelum akhirnya menemukan jalan yang lebih terbuka lebar lewat Diplomat Success Challenge (DSC). Saat memenangi Wismilak Diplomat Success Challenge (DSC) 2015 lalu itu, memang diakuinya sebagai sebuah lompatan berarti dalam “karier”-nya dalam dunia drone. Lewat desain MATA alias Mesin Terbang Tanpa Awak atau drone, Radja tak hanya menyabet predikat juara, namun juga membuka mata dunia, bahwa orang Indonesia pun mampu merakit “mainan” canggih tersebut.

Dana hibah sebesar Rp 500 juta dikantonginya atas kemenangan tersebut. Lewat DSC, pria yang berdomisili di Bandung itu kemudian merealisasikan ide-ide bisnisnya, salah satunya membuat drone berbiaya jauh lebih murah dari yang biasa beredar di pasaran.

“Manusia merupakan pusat dari teknologi itu sendiri. Ketika teknologi tak lagi melayani manusia atau malah menjadikan orang terlalu bergantung pada teknologi tersebut, maka hal tersebut menjadi paradoks,” ujarnya.

“Saya tidak percaya bahwa untuk berteknologi itu, orang harus selalu bersekolah setinggi mungkin. Namun, saya juga tidak mengatakan bahwa orang tidak perlu sekolah. Intinya, berteknologi itu bisa dilakukan oleh siapa saja, yang mau berpikir dan peduli terhadap suatu gagasan-gagasan yang timbul dari dalam diri.”

Hal tersebut akhirnya memicu Radja mencoba menularkan semua ilmu yang telah didapatnya kepada orang lain. Pria 41 tahun itu siap membantu siapa pun yang membutuhkan transfe ilmu, khususnya dalam bidang pengolahan data, tak peduli apa pun latar belakang pendidikan orang tersebut. Maka, mulailah Radja membangun kelompok-kelompok masyarakat di beberapa daerah dengan nama Akademi Drone. Melalui komunitas itu, diharapkan keberhasilannya bisa menginspirasi orang-orang untuk turut menyederhanakan teknologi pembuatan drone.

“Saya ingin Indonesia tidak ketinggalan dalam perkembangan teknologi dan bisa memproduksi drone sendiri,” ungkap Radja.

Tak tanggung-tangung, dengan drone rakitannya, pelosok Nusantara pernah dijelajahinya. Sejumlah lokasi di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, serta beberapa pulau lainnya sudah merasakan manfaat sharing ilmu tentang drone buatannya. Radja pun menggandeng sejumlah institusi di daerah-daerah tersebut, untuk memasyarakatkan drone rakitannya. Drone, teknologi mutakhir yang harganya selangit itu, kini coba diperkenalkannya secara akrab kepada masyarakat.

Tentu saja, apa yang dilakukan oleh si genius Radja ini membanggakan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan warga Malang Raya khususnya. Semoga melalui Akademi Drone-nya tercipta inovasi-inovasi baru selanjutnya dari tangan anak Indonesia.

?>